Selasa, 07 April 2009

Studi Kasus : Todays Dialogue, Khilafah Vs Demokrasi

Analisis Wacana
Studi Kasus : Todays Dialogue, Khilafah Vs Demokrasi
(http://www.metrotvnews.com/todaysdialogue/topics.php?id=1943&idp=34)

A. Sebelum Membaca Lebih Lanjut
Sebelum membaca lebih lanjut, ada beberapa hal yang ingin diungkapkan oleh penulis. Pertama, tidak ada keberpihakan penulis kepada salah satu kubu yang ‘berseteru’ dalam objek kajian ini. Yang kedua, diskusi yang dilakukan dalam tulisan ini tidak akan menyentuh ‘isi’ akan tetapi memfokuskan pada teknik teknik linguistik, yang didukung oleh teknik teknik lain seperti gesture, proporsi dll, yang digunakan oleh para objek kajian. Ketiga, mempertimbangkan kemampuan sang penulis, tulisan ini SANGAT mungkin salah dan butuh banyak saran, kritik dan komentar baik yang mendukung maupun yang mencela, dipersilahkan

Ada respon yang diberikan pada salah satu cara Metro TV, Today’s Dialogue, yang isinya adalah kritik pada salah satu episode yang berjudul Konsep Khilafah Vs Demokrasi. Kritik tersebut singkatnya menyatakan bahwa perdebatan dalam acara tersebut berlangsung sangat tidak berimbang, salah satu objek kajian, menurut si pengirim surat, dikeroyok oleh dua nara sumber, termasuk juga oleh pembawa acara dengan argument-argumen tertentu. Namun argumentasi yang disajikan disini, berfokus pada kajian bahasa, yang didukung oleh factor factor lain.

B. Today’s Dialogue
Menurut definisi yang dibuat oleh Metro TV sendiri, (http://www.metrotvnews.com/todaysdialogue/aboutus.php), Metro TV menghadirkan narasumber yang berlawanan, dan sangat independen. Jika dilihat dari nama organisasi yang diusung oleh para narasumber, definisi itu tidak salah. Ini karena para objek kajian, yaitu: Novianto Kahar (Dosen Univ Parmadina), Abdul Mosqith Gazali (Jaringan Islam Liberal), Ismail Yusmanto (Hisbut Tahrir) secara kasat mata memang berasal dari organisasi yang huruf huruf penyusunya berbeda. Ini tidak terbantahkan lagi. Yang perlu dipertanyakan, adalah definsi dari ‘sangat independen’. Independen sendiri merupakan kata serapan dari bahasa inggris yang secara singkat bisa diartikan bebas atau merdeka. Menurut kamus elektronik endic.naver.com, independent (adj) memiliki makna yang salah satunya sebagai berikut,” If one thing or person is independent of another, they are separate and not connected, so the first one is not affected or influenced by the second. ”, dan definisi lain “An independent inquiry or opinion is one that involves people who are not connected with a particular situation, and should therefore be fair”. Disinilah yang masih bisa dipertanyakan, meskipun mengusung nama yang berbeda, apakah tindak-tanduk mereka dalam perdebatan tersebut independen atau tidak, ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut.

C. Letak Ketidakadilan

Proporsi kesempatan berbicara, secara kuantitatif, yang diberikan pada tiap pembicara memang mungkin dikatakan proporsional. Mutia Hafidz yang berperan sebagai MC disini berusaha sebaik mungkin untuk membagi giliran kepada tiap pembicara agar proporsi bicara mereka paling tidak hampir sama. Namun apa yang terjadi pada acara tersebut, Ismail Yusmanto yang mewakili Hizbut Tahrir seperti dikeroyok oleh dua pembicara dan Mutia Hafidz juga.
Yang jelas jelas menjadi oposisi IY, adalah AMG. Keduanya berasal dari kubu yang memang kontras. IY berasal dari Hisbut Tahrir, yang mengusung pemikiran Khilafah, dan AMG berasal dari Jaringan Islam Liberal yang mengusung Demokrasi. Kedua hal ini direpresentasikan dalam judul acara tersebut, yaitu Khilafah Vs Demokrasi. Yang diharapkan menjadi kubu penetral adalah NK, akademisi asal Universitas Paramadina. Namun apa yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. NK malah cenderung berpihak kepada kubu AMG, dengan menyudutkan IY, dengan cara cara tertentu, begitu juga dengan Mutia Hafidz

Tepat, atau paling tidak dipertimbangkan (MH)
“Penjelasan konsep khilafah yg dijelaskan oleh pak ismail, apakah anda merasa bahwa ini adalah konsep yang tepat untuk kita gunakan di tanah air saat ini (AMG mulai berbicara, namun segera ditambahkan oleh MH) atau paling tidak untuk dipertimbangkan lebih jauh?”

Pada video rekaman, kita lihat MH memotong tuturan AMG. Tapi sebenranya, pemotongan ini MH justru memperkuat argument AMG, dengan berusaha membentuk persepsi penonton dengan mengatakan “paling tidak”. Kata “paling tidak” memberikan satu presuposisi pada penonton, dalam konteks ini, bahwa reference yang dituju (konsep khilafah), sebenarnya tidak tepat. Disadari atau tidak, surface structure dari kalimat tersebut berbentuk pertanyaan, tapi deep structurenya sudah berubah menjadi pernyataan dan mengarahkan persepsi penonton bahwa reference yang dituju sebenarnya tidak cocok, dan hanya layak untuk dipertimbangkan, dan tidak untuk diadopsi. Ingat, dalam dialog seperti ini, pemegang kuasa bukan lagi narasumber. Pemegang kekuasaan tertinggi adalah sang MC, apapun jabatan atau title si narasumber. Dia bisa memotong, menyimpulkan, dan mengatur jalanya acara tersebut. Oleh karena itu, yang sebenarnya paling berpengaruh dalam acara seperti ini adalah si MC. Ini didukung pula dengan gesture MH, yang tertawa pada saat mengatakan ‘paling tidak untuk dipertimbangkan lebih jauh?”. Seolah olah konsep ini hanya patut jadi bahan tertawaan

AMG
…konsep ini saya kira lemah pada dua level, (MH memotong : dimana?), yang pertama dasar teologisnya cukup rapuh (MH: dasar?) teologisnya.

Kembali MH memotong dengan gaya dan tujuan yang sama. Pertama, ia ingin menegaskan sekali lagi pada penonton, bahwa konsep khilafah memiliki beberapa kelemahan, dengan menanyakan “dimana?” kelemahan tersebut, dan ini diulangi kembali pada pertanyaan “dasar teologisnya?”. MH ingin mengelaborasi lebih lanjut kelemahan tersebut untuk diekspos. Pada gaps gaps tuturan AMG, MH mengisinya dengan filler positif yang mendukung pendapat AMG, seperti “em”,” ya”, berkali-kali.

AMG
“Ketika Muafiyah bin abi sofyan menjadi gubernur damaskus, dan dia tidak mengakui kekhilafan daripada ali bin abi tholib dia menegatakan “ali bin abi tholib, anda jangan salah sangka, islam sekarang bukan hanya ada di mekah dan madinah tapi islam sekarang sudah mulai melebar”. Nah, sekarang islam bukan hanya berada di kawasan timur tengah tapi juga di Indonesia, Malaysia, dll. (MH memotong lagi: artinya?), itu menunjukan bahwa pada zaman yang klasik itu tidak mudah untuk menyatukan apalagi sekarang(MH memotong lagi: saat ini) islam sudah begitu besar…”

Nah, MH kembali menggunakan maneuver turn-taking, sama persis dengan gaya yang mengarahkan penonton untuk memberikan perhatian pada tuturan AMG, yang kemudian MH sendiri kemudian menyimpulkan
MH
“jadi selain sepertinya sulit untuk tercapai, pak ismail, ini poin dari pak maksud juga, lemah dari dasar teologisnya. Pendapat anda?”

Disini kita bisa memfokuskan pada gesture MH. “jadi selain sepertinya sulit untuk tercapai, pak ismail, ini poin dari pak maksud juga, lemah dari dasar teologisnya.”, yang ketika tuturan tersebut diekspresikan, ia menunduk dan melihat teks yang ada diatas meja, tidak memberikan perhatian pada reference yang dituju. Dengan demikian, ia ingin mengungkapakan bahwa IY bukanlah seseorang yang perlu dianggap penting. MH menggeser posisi Addresse, yang biasanya terletak di depan, atau di belakang, menjadi di tengah. MH juga tertawa ketika menanyakan “Pendapat anda?” seolah olah respon IY nantinya hanya patut menjadi bahan tertawaan.

IY: kalau sulit memang iya. Kita mengakui bahwa itu tidak mudah (MH: tertawa), siapa bilang bahwa perjuangan begitu besarnya itu mudah. Memang itu sudah naturalnya, semakin tinggi cita cita itu, semakin sulit dan semakin sulit dibayangkan termasuk, …(MH memotong: Tapi cita citanya realistis tidak? Kan walaupun cita-citanya tinggi) saya pikir …(MH memotong lagi: kita harus realistis). Saya pikir itu sangat relistis. …. Bagaimana mas muklis mengatakan bahwa tidak ada dasar teologis untuk penerapan syariat islam? Ada jelas ….. bahkan jelas… (MH: itu dasar2 anda untuk memperjuangkan konsep khilafah kembali?). Bukan, itu adalah dasar2 teks yg sangat jelas dalam al quran untuk penerapan syariat islam. Kemudian (MH: dalam bernegara? Apakah spesifik dikatakan dalam bernegara, dalam artian rumusan undang undang Negara juga harus berdasarkan syariah?). ketika syariah itu diterapkan, syariah itu mengikat dalam kehidupan pribadi, keluaraga, bermasyarakat, dan bernegara. Islam punya Negara itu tidak lain adalah bagaimana membuat masyarakat itu menjadi baik. Dan bagaimana masyarakat itu menjadi baik itu tidak lain dengan system yang baik itulah syariat islam….(MH memotong lagi: Itu fungsi Negara menurut HT?). Ya! Itulah syariat islam. Keadilan kesejahteraan itu hanya bisa dijamin melalui sebuah system yang baik. Itulah system syariat islam (system yang baik harga mati ada pada syariah? begitu). Iya, jelas! Kita (MH memotong lagi: komentar anda) sebenarnya saya belum selesai (MH: bung Novrianto?) OK. Saya potong sebentar untuk mengomentari itu?

Disini kita kembali diperlihatkan, betapa besar kuasa MH sebagai MC. Berkali kali ia memotong, bahkan mengentikan tuturan dari IY. Faktor non linguistic juga berpengaruh disini. Secara teks, memang ketika MH tertawa tak ada referen tertentu yang diacu. Namun reference dari gesture MH ini, adalah kalimat sebelumnya dari IY yang menyatakan bahwa memperjuangkan system khilafah itu tidak mudah. Disini IY mengimplikasikan bahwa sebagian yang dikatakan AMG sebelumnya itu memang benar. Sebagian, artinya tidak semua. Namun dengan gesture MH ini, persepsi yang ingin terbentuk adalah IY juga setuju dengan semua yang dikatakan AMG, bahwa IY adalah orang yang tidak konsisten, atau sebenarnya tidak mempunyai fondasi kuat atas kepercayaanya.

IY sadar akan hal ini, dan segera mengemukakan alasan sekaligus berusaha mengklarifikasi dengan tujuan menghindari pembentukan persepsi yang dikehendaki MC. Kita lihat disini terjadi pertarungan wacana antara IY dan MH. MH juga berkali kali mengungkapkan keragu-raguanya pada pendapat IY, yang sebenarnya yang walaupun surface structurenya berbentuk pertanyaan, tapi sebenarnya menegasikan klarifikasi IY, dimana

“Memang itu sudah naturalnya, semakin tinggi cita cita itu, semakin sulit dan semakin sulit dibayangkan termasuk, …(MH memotong: Tapi cita citanya realistis tidak? Kan walaupun cita-citanya tinggi) saya pikir …(MH memotong lagi: kita harus realistis).”

Coba anda simak tuturan pertarungan wacana antara IY dan MH berikut

“Bagaimana mas muklis mengatakan bahwa tidak ada dasar teologis untuk penerapan syariat islam? Ada jelas ….. bahkan jelas… (MH: itu dasar2 anda untuk memperjuangkan konsep khilafah kembali?). Bukan, itu adalah dasar2 teks yg sangat jelas dalam al quran untuk penerapan syariat islam. Kemudian (MH: dalam bernegara? Apakah spesifik dikatakan dalam bernegara, dalam artian rumusan undang undang Negara juga harus berdasarkan syariah?).”

IY berusaha untuk menegasi pernyataan AMG, namun ini diantisipasi oleh MH dengan tujuan mempertahankan persepsi bahwa penerapan system khilafah tidak memiliki dasar hokum yang jelas. MH pun mencecar IY dengan meminta IY menunjukan rumusan spesifik dalam Al Quran, yang menunjukan hal hal yang spesifik tentang konsep khilafah. Dan ini memang agak sulit dijawab, karena Al Quran maupun hadits memang tidak menjelaskan tentang hal hal spesifik seperti tenses dalam bahasa inggris, gerund, tingkat tutur dalam bahasa jawa, hanya menjelaskan hal hal yang general. Misal, pada pemberian tanda sudah maksud waktu solat. Tidak disebutkan apakah Azan harus pakai TOA, berapa watt kekuatanya, apa mereknya dll.

Pada kalimat, “Keadilan kesejahteraan itu hanya bisa dijamin melalui sebuah system yang baik. Itulah system syariat islam (system yang baik harga mati ada pada syariah? begitu)” coba anda perhatikan lema “harga mati”. Ketika berbelanja apakah, secara literal, mati berarti tidak bernyawa. Namun sebenarnya makna yang bisa kita tangkap adalah sesuatu yang tidak dapat berubah, saklek, konservatif. Fitur fitur semantic inilah yang berusaha dihadirkan oleh pilihan kata MH. Stereotip para kaum konservatif memang tidak terlalu baik dimana mereka agak sulit untuk menerima perubahan. Inilah yang berusaha dihadirkan oleh MH dengan pilihan kata “harga mati” tersebut.

Mimpi-Mimpi Kosong (NK)
“kalau kita membaca kitab kitab (nama kitab), yang mereka adopsi, mu’tabar bagi mereka, sebetulnya tidak ada yang istimewa dari kitab-kitab itu, hanya berupa retorika-retorika kosong, yang sebetulnya kalau dibaca oleh orang yang belajar ilmu politik modern, ini hanya mimpi orang orang yang (terpotong), hidup di zaman pertengahan… Kalau anda bertany pada orang yang belajar ilmu politik modern, itu semua seperti mimpi mimpi kosong


Program ini berdiri sejak Metro TV on air tahun 2000. Sebelumnya dikemas dengan menggunakan instrumen musik piano sebagai interval per segmen. Namun seiring perkembangan hard talkshow maka komplemen musik sebagai bagian show dihilangkan.

Program talkshow yang mengangkat topik aktual, kontroversi dan memiliki magnitude yang sangat kuat. Talkshow ini sebelumnya dipandu Najwa Shihab, Meutya Hafid dan kini oleh Kania Sutisnawinata dengan menghadirkan 4 narasumber yang berlawanan sikap, baik itu dari pemerintah, parlemen, ormas, LSM, tokoh masyarakat, serta tokoh daerah. Dengan kualifikasi utama mereka yang menjadi news maker atas sebuah issue yang sedang ramai dibicarakan di publik. Sesekali menghadirkan 2 Panelis, jika dianggap 3 atau 4 narsum kurang memadai untuk obyektivitas sebuah issue atau memeriahkan show itu sendiri.

Program talkshow ini benar-benar menjaga independensi dan bebas dari segala bentuk blocking time. Sejauh ini, Todays Dialogue menjadi garda terdepan program talkshow di Metro TV dengan perolehan rating dan share yang cukup mengemberikan (everage rate 1 dan share 4,5). Program ini satu dari 11 program andalan di Metro TV.

Tayang :
Selasa, pukul 22.05-22.30 WIB (Taping)
Program Rerun: Rabu pukul 13.30-14.30 WIB

I.
Novianto Kahar (Dosen Univ Parmadina)
Mutia Hafidz (MC)
Abdul Mosqith Gazali (Jaringan Islam Liberal)
Ismail Yusmanto (Hisbut Tahrir)

Rabu, 17 September 2008

Senin, 15 September 2008

Sekilas Bahasa Korea

Introduction

Bahasa korea dan jepang sedikit banyak bersaudara. Yah, seperti bahasa inggris dan perancis lah. Disamping itu, kedua bahasa ini terkait erat dengan bahasa cina. Banyak sekali, sampe sekarang, istilah istilah yang dipinjam dari bahasa cina. Yang paling sering dan masih digunakan sampai sekarang adalah sistem penomoran (il, i, sam, sa...) yang digunakan berdampingan dengan sistem penomoran asli korea. Selain cina, Korea juga banyak menggunakan kata kata pinjaman dari bahasa jepang. Mungkin karena mereka memang pernah dijajah sama jepang. Lalu yang tak kalah banyak adalah bahasa inggris. Terutama benda benda yang memang hanya ada dalam bahasa tersebut. Paling2 mereka hanya menyesuaikan spellingnya saja

Manurut akar rumpunya, bahasa korea dikelompokan sebaga bahasa altaic. Bahasa ini memiliki akar rumpun yang sama seperti Manchu-Tungusic, Mongol dan turkic. Salah satu tonggak terbesar dalam sejarah linguistik korea, adalah pada saat pemerintahan Raja Sejong pada abad ke 15. Bersama kaum cerdik pandai istana, mereka menciptakan alfabet korea/ aksara yang disebut 'Hangeul'. Tidak banyak lho bahasa yang punya aksara sendiri. Di indonesia saja, bahasa yang punya aksara sendiri adalah bahasa jawa, lampung dan beberapa bahasa daerah lain. Nggak banyak koq. Soalnya memang di negara kita budaya lisan lebih kuat daripada tulisan

Agglutinative Morphology

Bahasa korea secara morfologis digolongkan sebagai bahasa aglutinatif, dimana terdapat banyak sekali affix atau partikel yang bisa digandeng dengan nomina atau predikat. Partikel ini biasanya sebagai penanda gramatikal tertentu, misalnya penanda subjek, objek, tempat dll. Yang unik, partikelnya semua berbentuk postposition atau pada bagian akhir (sufix)

SOV syntax

Tidak seperti bahasa Indonesia dan bahasa inggris, pola sintaksis bahasa korea agak berbeda. Dalam bahasa korea, posisi V ada di bagian belakang, dan objek ada di tengah. Ini agak mirip dengan bahasa jepang. Subjek dan objek juga kadangkala dihilangkan jika makna sudah dapat ditebak dari situasi yang ada. Makanya bahasa korea juga disebut discourse oriented language. Sistem penamaan juga begitu. Tidak seperti orang2 indonesia yang nama marganya ada di bagian belakang, nama marga orang2 korea ada di bagian depan.

Honorific Language

Mirip seperti bahasa Jawa, bahasa korea juga punya speech level. Hanya saja dalam bahasa ini, leksim yang digunakan tak banyak berubah. Yang berubah hanya partikelnya saja. Misal saja partikel 'imnida' digunakan untuk menyapa orang yang lebih tinggi statusnya, sedang 'yeo' digunakan untuk teman yang setara, atau bahkan jika sudah dekat sekali bisa tanpa partikel.

Jumat, 18 Juli 2008

If: a presupposition trigger of Non Truth


If a man could be two places at one time,
I'd be with you....
Lyric Fragment: If by Bread

jika aku bisa ada di dua tempat secara bersamaan, maka aku akan bersamamu
atau
jika aku bisa membelah diri, aku bakalan bersamamu
atau
jika badanku bisa terbagi, aku akan bersamamu

begitulah, dari tadi if... if... if.... yang artinya kalau... kalau.... kalau.... dari potongan lagunya bread, kita tahu bahwa seseorang tak bisa berada pada dua tempat pada waktu yang sama. Dari mana kita bisa mempunyai pemikiran seperti itu? karena ada kata kata "if". Dimana dengan kata kata ini, sesuatu dapat diindikasikan tidak atau belum bisa terjadi

if i had wings, then i would fly

apakah saya punya sayap? tentu tidak. Hal ini akan berbeda jauh apabila kita hilangkan if-nya

i had wings, then i would fly

ini malah artinya saya punya sayap adan akan terbang...
begitulah... if ini menjadi salah satu andalan dari para calon pemimpin kita yang berkampanye, baik presiden, gubernur, atau bupati. Namun seringkali janji ini pada akhirnya diingkari.
Jika saya jadi presiden, maka saya tidak akan menaikan harga BBM

Saat mereka menjabat memang berbeda saat mereka kampanye. Ternyata ketika menjabat, bensik naik 3X dari 2500 sampai sekarang berkisar 6000 rupiah! ini Karena penekanan yang terjadi bukan pada janji untuk tidak menaikan BBM, tapi lebih pada If, nya. "saya belum jadi prsiden" begitu kira-kira...he...he...

makan tempe pake bakso urat
listrik mati ada kereta lewat
ketika kampanye semua terasa dekat dengan rakyat
tak tahu nanti kalau sudah menjabat

Interpreting: Terjemahan dan Budaya

Perempuan di Aceh tanpa Jilbab

wow! mungkinkah? well, i guess it's almost impossible. Mereka memang punya strong belief yang sudah membudaya. Sehingga every girl and woman must wear veil. Sekarang back to the previous statement. Dari situ, semua wanita yang ada harus menggunakan Jilbab jika ingin diterima. Diterima disini maksudnya adalah you can get along with them. Walaupun bukan satu satunya faktor, hal budaya ini cukup berpengaruh dalam proses interpreting

bayangkan saja Anda adalah seorang wanita yang berprofesi sebagai interpreter, lalu dikirim ke Aceh. Ketika menerjemahkan, otomatis Anda menggunakan jilbab. Hal ini dilakukan agar semua proses berjalan dengan lancar. Dan tentang budaya ini bukan saja dalam budaya berpakaian, tapi juga budaya lain. Misalnya saja, joke.

Anda menjadi penerjemah untuk duta besar indonesia di satu negara, sebut saja Amerika. Saat itu presiden amrik came and talked with indonesian ambassador. Lalu anda menerjemahkan omongan dia. Si presiden lalu membuat joke. Tapi joke ini tak lucu dalam bahasa indonesia?! gimana?

A. Tetap menerjemahkan
B. Minta duta besar indonesia untuk tertawa, supaya menghormati presiden amrik
C. Menerangkan bahwa presiden amrik sedang membuat lelucon yang tak lucu dalam bahasa indonesia

Sabtu, 12 Juli 2008

Penerjemahan: Bebas Nilaikah?

Ideologi Penerjemahan
Pada Novel Les MIserable Karya Victor Hugo Oleh Su Manshu

Pendahuluan

Les Miserable adalah salah satu novel berbahasa Prancis karya Victor Hugo yang cukup populer. Novel ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa, dan yang terbanyak adalah bahasa inggris. Di Cina, novel ini diterjemahkan oleh Su Manshu, seorang wanita Cina yang dilahirkan di Jepang.

Dalam penerjemahan, wajar saja jika terjadi pergeseran, baik dalam tataran semantik, atau sintaksis. Ini karena struktur bahasa target, belum tentu sama persis dengan bahasa sasaran. Namun dalam penerjemahan novel ini ke bahasa cina,yang terjadi bukan hanya pergeseran dibidang kebahasaan saja.

Strategi yang digunakan Manshu adalah penerjemahan bebas atau unfaithful. Dalam penerjemahan ini pergeseran bisa terjadi 100%. Kelebihan menggunakan strategi ini adalah, penerjemah mampu mengubah, tak hanya bahasa, namun juga esensi dari teks awal sehingga hasil penerjemahan bisa berbeda 180 derajat dibanding teks sumber. Sekedar catatan saja, Manshu juga hidup di era dinasti Qing yang feudal serta masyarakat Cina yang menganut paham budaya dan politik Konfusianisme. Selain itu pengaruh ideologi Manshu yang menganut agama Budha memberikan warna tersendiri pada novel terjemahan Les Miserable dalam bahasa cina.

Pengaruh Ideologis

Hitam dan Putih Bishop Uriel

Salah satu tokoh dalam novel Les Miserables ini, yaitu Bishop Uriel, digambarkan Hugo sebagai karakter yang bijaksana dan baik hati.

That which enlightened this man was his heart. His wisdom was made of the light which comes from there.1
...
He inclined towards all that groans and all that expiates. The universe appeared to him like an immense malady; everywhere he felt fever, everything he heard the sound of suffering, and, without seeking to solve the enigma, he strove to dress the wound. The terrible spectacle of created things developed tenderness in him; he was occupied only in finding for himself, and in inspiring others with the best way to compassionate and relieve. That which exists was for this good and rare priest a permanent subject of sadness which sought consolation.2
There are men who toil at extracting gold; he toiled at the extraction of pity. Universal misery was his mine. The sadness which reigned everywhere was but an excuse for unfailing kindness. Love each other; he declared this to be complete, desired nothing further, and that was the whole of his doctrine.3

Namun dalam terjemahanya, Manshu menggambarkan Bishop Uriel secara berbeda. Salah satunya adalah kalimat ini "贪和尚慷慨留客 苦华贱委婉陈情"”. Dalam bahasa Indonesia, ini bisa diterjemahkan kira kira begini “ Biksu yang serakah itu menawarkan untuk singgah ditempatnya”

Masih tentang Bishop Uriel. Salah satu chapter dalam novel ini berjudul Tranquilty, yang artinya dalam bahasa indonesia kira kira adalah ketenangan. Namun dalam terjemahan salah satu paragraf pada novel tersebut, perspektif berbeda Manshu sangat terlihat. Kalimat itu kira kira menggambarkan tentang Bishop Uriel yang sangat tenang dalam menghadapi satu situasi.

.....说罢,歇了半刻,华贱忽然现出一种希奇的样子,两只手捏了拳头,睁了一双凶狠狠的眼睛,对主教道:"哎呀!现在你留我住下,还离你这样近吗?"刚说到这里,就停住了,忽然又哈哈一笑。
主教看见这样情形,心里倒有些惊慌。(PEI:142)

Namun ia menambah satu kalimat yang merupakan poerspektifnya sendiri. Kalimat tersebut digarisbawahi pada kutipan diatas. Kira kira terjemahanya dalam bahasa indonesia begini. “Pendeta itu merasa sedikit panik”. Hal ini tentu saja tak sesuai dengan judul chapter-nya, dan membuat image negatif pada Bishop Uriel.

Manshu adalah seorang Budha yang cukup taat. Bahkan ia adalah seorang Biksu. Sedangkan novel tersebut kental dengan nuansa Kristen. Budha dan Kristen adalah dua agama yang berbeda, dimana secara fundamental doktrin keduanyapun berbeda. Pemutarbalikan deskripsi tentang Bishop Uriel dan menambah nambahi terjemahan dengan komentarnya sendiri adalah salah satu usahanya untuk memberikan sentimen agama.

Penciptaan Salah Satu Karakter baru- Ming Nande

Selain hal diatas, Manshu juga menampilkan karakter baru yang tidak ada di dalam novel aslinya, yaitu Ming Nande. Ming disini mulai muncul pada buku ke 7. Pada akhirnya, Ming bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri karena tak bisa membunuh Nepoleon. Di sini terlihat harapan Ming yang sebenarnya tidak suka dengan pemerintahan Napoleon. Ia berharap akan terjadinya revolusi pada pemerintahan Napoleon. Alih alih merubah plot secara total (misal membunuh napoleon), ia menampilkan seorang pejuang rakyat. Disini kita bisa melihat ketidaksetujuanya terhadap pemerintahan feudal, yang dalam hal ini prancis dan cina pada saat itu adalah sama. Sama sama feudal. Inipun sejalan dengan ketidaksetujuanya pada sistem pemerintahan feudal, dimana pengabdian pada pemimpin menjadi salah satu doktrin, sejahat apapun pemimpin mereka. Nampaknya ia berusaha menunjukan kesalahan sistem pemerintahan dengan novel terjemahanya.

Ketidaksetujuanya terhadap Konfusianisme tidak sepenuhnya. Ajaran konfusianisme yang sampai sekarang masih sedikit banyak mempengaruhi ideologi cina, membatasi hubungan antara wanita dan pria. Semacam jarak maya diciptakan untuk membatasi hubungan mereka
In this moment Nande knew it was the girl that he was worrying about. Then he affectionately held up her slim waist and kissed her several times (This is a western custom, please don't be surprised!)... (emphasis mine) (PEI 1982:168)9
Kata kata yang digaris kurung menunjukan bahwa berpelukan dan berciuman bukanlah budaya timur atau tidak sejalan dengan konfusianisme.
If one can do his filial duties, he is a good person. It is unnecessary to talk such nonsense as fighting against injustice. (ibid:150)13

Baik dalam konfusianisme atau Budhisme, patuh pada orang tua adalah suatu hal yang wajib hukumnya. Tuturan diatas yang digaris bawahi merupakan tuturan dari ayah Ming Nande. Sekali lagi, dalam menerjemahkan, Manshu tak bisa lepas dari ideologi konfusianismenya

Kesimpulan

Novel Les Miserables terdiri dari 5 volume dan dari 5 volume tersebut ada 9 buku. Diantara 9 buku tersebut, ia tidak menerjemahkan buku yang pertama. Selain mendekonstruksi karakter Bishop Uriel dan penciptaan karakter baru, fakta ini memperjelas sikap Manshu, yang tak bisa lepas dari pengaruh agama budha, kepercayaan konfusianisme, budaya cina, dan pengalamnya yang pernah berada di bawah sistem pemerintahan feudal. Jelas sudah pergeseran yang terjadi dalam penerjemahan les miserables ini tidak hanya dari segi bahasa, namun juga ideologi.


artikel ini diadaptasi oleh Prihantoro, dari artikel Li Li dalam Translation Journal yang berjudul Ideological Manipulation in Translation in a Chinese Context:Su Manshu's Translation of Les Misérables

Rabu, 02 Juli 2008

Sampai Mati tak Bicara

Saya teringat pengalaman saya ketika menjadi presenter makalah di UI. Saat itu ada salah seorang pemakalah dari Sumatra Utara. Ia menceritakan tentang fenomena kebudayaan di daerahnya. Pada salah satu suku di Sumatra Utara, ada tradisi yang unik. Seorang menantu laki-laki, pada suku ini, tidak boleh bicara pada ibu mertuanya, dan juga sebaliknya. Apabila mereka ingin berkomunikasi, maka mereka harus menitipkan pesan pada orang lain.

Karena tidak bertemu langsung, miskomunikasi seringkali terjadi diantara mereka. Misal ketika si mertua ingin pulang dari sebuh acara, dimana yang membawa kendaraan hanyalah si menantu. Ia lalu menitipkan pesan pada anaknya, 'tolong bilang sama si ucok, antarlah aku pulang, sudah lElah akuy disini'. Sang anakpun mencari suaminya, lalu bilang begini 'Bang, Mamak minta kau antar pulang,